Kamis, 28 Agustus 2008 06:41
Kapanlagi.com - Vikjen Keuskupan Agung Pontianak, Kalimantan Barat, Dr. William Chang, OFM. Cap, mengimbau masyarakat setempat untuk tidak menjadikan perbedaan agama sebagai sumber konflik.
"Agama bukanlah sumber konflik. Tapi manusianya yang keliru dalam memahami agama dan menjadi sumber konflik," katanya saat menjadi pembicara pada seminar antar pemuka agama di Wisma Nusantara Pontianak, Rabu (27/8).
Ia mengatakan, agama selalu mengajarkan kedamaian bagi umatnya, sehingga manusialah yang bertanggung jawab terhadap kedamaian itu sendiri.
Pada kesempatan yang sama Direktur Forum Dialog Agamawan Muda (FORDIALAM) Kalimantan Barat, Dr. Yohanes Bahari mengatakan saat ini banyak pernyataan dari tokoh agama atau penafsir agama yang tidak terlalu memahami agamanya, yang jika terus terjadi dikhawatirkan menjadi bibit konflik seagama atau dengan agama lain.
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama Kalimantan Barat, Rasmi Satar mengimbau para pemeluk agama untuk hidup rukun dan damai. "Kita juga tidak menginginkan para elit politik menggunakan suku, agama, ras, dan kepercayaan masyarakat untuk kepentingan politik, karena dapat memicu konflik," katanya.
Ia juga berpesan agar para pemuka agama dapat hidup saling menghormati sehingga tercipta kerukunaan pada umat beragama, dan tercipta lingkungan hidup yang aman dan damai sesuai tujuan tiap agama.
"Setiap agama selalu mengajarkan kebaikan, dan tidak ada agama yang mengajarkan keburukan," ujarnya.
Ketua Panitia Seminar antar pemeluk agama di Pontianak, Ismail Ruslan mengharapkan apa yang disampaikan dalam seminar tersebut mampu melahirkan kesadaran baru bagi masyarakat terhadap pluralitas untuk membangun kehidupan bersama, saling menghormati, menghargai berbagai perbedaan, kepercayaan, untuk menciptakan perdamaian dan keadilan bagi seluruh masyarakat.
Ia berharap, seminar tersebut bisa memperluas wawasan dan pengetahuan tokoh agama muda mengenai kekayaan dan keunikan berbagai agama dan keyakinan untuk mengembangkan kesadaran masyarakat akan arti perbedaan.
"Ke depan peran tokoh agama dan tokoh masyarakat perlu lebih ditingkatkan untuk menjaga kerukunan antar umat beragama yang selama ini sudah terjalin dengan baik," kata Ismail Ruslan. (kpl/rif)
Senin, April 20, 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar